Hidup nilai diatas kertas

Aku malas tidur. Karena ketika aku bangun aku akan menghadapi pagi yang membosankan sampai pukul 08.30. Ketika harus menahan kantuk mendengar perpaduan suara kipas angin dan sunyi. Menahan kelopak, memaksa pendengaran agar tetap sinkron dengan pikiran, dan melihat coretan unsur tak terbaca pada papan putih yang disorot proyektor dengan software Ms. Word. Polos, hanya hitam dan putih. Dan ketika camilan yang diantar tak cukup menghibur, kita masih bertahan dengan jajanan unik toko bawah tangga. Kamar mandi tak lagi pelarian, namun tujuan.

Aku tak berharap banyak. Hanya dapat nilai kkm saja, aku sangat bahagia. Remidi, sudah biasa. Karena nilai sempurna hanya mimpi belaka. Berusaha menghibur diri dengan anggapan, karena nilai bagus sudah banyak yang punya, aku memilih nilai yang berbeda. Silang merah lebih dominan dari pita diatas nomor, namun tak apa. Aku menjadi istimewa. Dipandang sebelah mata, tak mengapa. Tak dipandang..aku terima. Kurang sabar apa.

Hidup nilai diatas kertasku tak semudah punyamu, tidak seindah punyamu. Bukan keras kepala, tapi ini kita mencoba menerima realita yang ada. Yang terbaca bukan rasa. Yang terbaca cuma kata. Apa yang ada dipikiran apa yang ada dihati. Karena semua sirna. Karena semua bukan untuk siapa. Namun untuk apa.

Namun tak selarut gula ketika kamu aduk bersama air dalam gelas. Dalam cangkir, dalam teko. Bulan hilang terenggut gulita. Berselimut awan yang menutup sinaran bintang. Gelap. Mati lampu rupanya. Dingin. Sepi. Sunyi. Cahayapun tak sudi disini. Habis hujan yang seusai menghilangkan panas. Ia putuskan tali-tali penghantar cahaya. Curang. Apa maksudnya? Tak bisakah hujan turun dengan slow. Oiya, hujan tak se kece manusia muda, yang bisa slow asal tidak sedang galau. Mungkin hujan sedang galau.

Hujan siang ini pertanda langit murka. Manusia muda lupa akan kodrat asalnya. Terlalu mengangkat tinggi dagunya lupa bahwa dunia ada empunya. Lupa akan siapa dirinya. Saat ini 3/4 malam. Tidur kak…besok kita tetap harus bangun berteman kenyataan. Ingin…ingin….ingin…. tak akan membuat kita kedepan. Jangan berlari, kenyataan merangkul kita. Hanya membuat semakin berkhayal. Lanjutkan mimpi saja. Mimpi semu namun indah, jangan bangun. Tunggu alarm menyala saja. Mari tidur…. selamat malam dunia.

 

By Me and Arnindya A. Urfan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: